Jumat, 07 November 2025

[Riyadhush Shalihih] 60 -✨ "Ihsan" ✨

 60 -✨ "Ihsan" ✨

💎 Ustadz Tarzakariya Amir, Lc. حفظه الله تعالى 

🗓 Hari: Jumat, 17 Oktober 2025 / 24 Rabi'ul Akhir 1447H


Hadis Jibril (Tentang Islam, Iman, Ihsan, dan Tanda Kiamat)
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ pada suatu hari, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak tampak padanya tanda-tanda bepergian, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi ﷺ dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Ia berkata: ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’

Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.’

Laki-laki itu berkata: ‘Engkau benar.’

Maka kami pun heran kepadanya, ia yang bertanya tetapi ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia berkata: ‘Beritahukan kepadaku tentang iman.’

Rasulullah ﷺ bersabda:

‘(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’

Ia berkata: ‘Engkau benar.’Kemudian ia berkata lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’

Rasulullah ﷺ bersabda:

‘(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak dapat (merasakan seolah melihat-Nya), maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Ia berkata lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang kiamat.’

Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

Lalu ia bertanya lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’

Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Yaitu apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan apabila engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing, berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan tinggi.’

Kemudian orang itu pergi, dan aku pun diam sejenak.

Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku:
‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi?’

Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda:
‘Sesungguhnya dia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.’

Ini termasuk “Ummus Sunnah” (induk dari Sunnah) karena mencakup seluruh inti ajaran Islam:
  • Islam (amalan lahir), → urutan paling rendah – termaktub dalam rukun Islam → Mencakup amalan2 Lahir / fisik / dzhahir 

  • Iman (keyakinan batin), → Tercatat dalam Rukun Iman → Amalan2 hati / Batin 

  • Ihsan (kesempurnaan ibadah).- → Kondisi dalam menjalankan Iman dan Islam

Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam beragama — yaitu beribadah kepada Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan seakan-akan kita melihat Allah, dan jika tidak mampu sampai pada rasa itu, maka meyakini bahwa Allah selalu melihat kita.


  1. “Seakan-akan engkau melihat-Nya”
    Maksudnya, seseorang beribadah dengan hati yang penuh hadir dan cinta kepada Allah, seolah-olah ia melihat Allah di hadapannya. Ia merasa dekat, tenang, dan khusyuk. Ini disebut maqam musyahadah (tingkatan penyaksian hati) — di mana seorang hamba menyembah karena cinta dan pengagungan yang mendalam.

  2. “Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”
    Artinya, walaupun kita tidak bisa sampai pada perasaan seolah-olah melihat Allah, kita tetap harus yakin sepenuhnya bahwa Allah melihat semua amal, niat, dan gerak hati kita.
    Ini disebut maqam muraqabah (tingkatan merasa diawasi) — ibadah yang dijaga karena takut dan malu kepada Allah.

Allah akan memberikan ganjaran bagi orang yang ihsan – لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, disediakan kebaikan (al-ḥusnā) dan tambahan (ziyādah).”  (QS. Yunus [10]: 26)

Islam adalah tingkatan terendah . Orang ISlam belum tentu beriman

Firman Allah tentang Iman dan Islam

📖 قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَـٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (berislam),’ karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.”  (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 14)

Tumbuhkan iman terhadap Allah, malaikat, Rasul. Al quran, hari Akhir, qada dan qadr

الإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Iman itu bertambah dengan ketaatan, dan berkurang karena maksiat.”

Kaidah penting dalam ilmu akidah, dikenal oleh para ulama dengan ungkapan:

"إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا"

“Apabila Islam dan Iman disebut bersama, maka maknanya berbeda; namun apabila disebut terpisah, maka maknanya menjadi sama.”

1️⃣ Jika Islam dan Iman disebut bersama dalam satu konteks (seperti dalam hadis Jibril):

Maka Islam bermakna amal lahiriah (perbuatan anggota badan),
sedangkan Iman bermakna keyakinan batin (amalan hati).

Contoh:
Dalam hadis Jibril, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Islam adalah engkau bersyahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji...”

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir...”
(HR. Muslim)

➡️ Di sini, Islam artinya amal lahir, Iman artinya keyakinan batin.
Keduanya dibedakan dalam makna, meskipun saling berkaitan.

2️⃣ Jika Islam atau Iman disebut terpisah (hanya salah satunya disebut dalam ayat atau hadis):

Maka maknanya mencakup keduanya, baik lahir maupun batin.

Contoh:

  • Dalam QS. Ali ‘Imran [3]:19
    إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلَامُ
    “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”
    ➜ Di sini “Islam” mencakup juga iman, bukan sekadar amal lahiriah.

  • Dalam QS. Al-Ḥujurāt [49]:15
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu.”
    ➜ Di sini “iman” mencakup juga keislaman lahiriah.

Ciri orang muhsin sejati:

  1. Tidak peduli dengan penilaian manusia.
    Ia tidak mencari pujian, dan tidak takut celaan.
    Sebagaimana firman Allah:
    الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
    “(Mereka adalah) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, dan mereka takut hanya kepada-Nya, serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
    (QS. Al-Ahzab [33]: 39)

    Ia tahu, penilaian manusia tidak mengangkat atau menjatuhkannya — karena yang mengangkat dan merendahkan hanyalah Allah.

  1. Namun hatinya selalu takut jika Allah merendahkan derajatnya.
    Orang muhsin bukan merasa sudah tinggi, tetapi justru semakin takut kehilangan kedekatan dengan Allah.
    Ia tidak merasa aman dari tergelincirnya hati atau jatuhnya keimanan.

    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Sesungguhnya hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Dia membolak-balikkan hati itu sesuai kehendak-Nya.”
    (HR. Muslim)

    Maka seorang muhsin senantiasa berdoa:
    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
    “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Faedah hadist

  1. 1. Keutamaan duduk di majlis ilmu 

Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallāhu ‘anhu . Beliau dikenal sebagai sahabat Nabi ﷺ yang sangat tampan, sampai-sampai Malaikat Jibril ‘alaihis-salām sering menampakkan diri dalam rupa beliau ketika datang kepada Rasulullah ﷺ.

2. 2. Izin untuk mengambil waktu guru → Jibril meminta izin saat mendekat kepada Rasul 

3. 3. Salah satu metode mengajar adalah dengan tanya jawab

4. 4. Pentingnya untuk mengatakan ‘tidak tahu’ jika memang tidak mengetahui suatu hal 

5. 5. Allah tidak pernah memberi tahu kapan hari kiamat

6. 6. Larangan berlomba untuk bermewah2an

7. Malaikat mampu menyerupai manusia

8. 7. Adab murid kepada guru, berpakaian rapi 

9. 8. Sabar terhadap murid, begitupun sebaliknya

19. Boleh bertanya walau kita sudah tau jawabannya, dengan tujuan untuk memberi ilmu kepada yang lain


Kamis, 06 November 2025

[Riyadhush Shalihin] BAB 5 - MURAQABAH

 Bab 5 Muraqabah (Pengintaian) 

MUQADIMAH




Ayat2 yang terkait bab Muraqabah 


Surah

Ayat


Al-Fajr:14

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”

Allah mengawasi seluruh amal manusia.

Al-Mu’min:19

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”

Allah mengetahui isi hati dan pandangan mata.

Al-Ahzab:52

“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”

Allah mengawasi seluruh ketetapan dan perbuatan.

Asy-Syu‘ara:217–219

“Yang melihatmu ketika engkau berdiri dan pergerakanmu di antara orang-orang yang bersujud.”

Allah menyaksikan ibadah hamba-Nya, bahkan dalam keheningan sujud.


Tema besar dari ayat2 diatas adalah bahwa Allah adalah Ar-Raqīb — Sang Maha Mengawasi.
Dia melihat pandangan mata, isi hati, langkah kaki, hingga sujud seorang hamba.
Tak ada rahasia di hadapan-Nya, dan tak ada amal yang luput dari pengetahuan-Nya.


Allah Berfirman  (QS. Al-An‘ām: 59)

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia.  Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan.
Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.
Tidak pula sebutir biji di kegelapan bumi, tidak yang basah dan tidak yang kering,
melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

🌺 Makna dan Kandungan Ayat:

  1. Kunci-kunci semua yang gaib hanya di sisi Allah.”
    ➤ Tidak ada satu makhluk pun — malaikat, nabi, atau jin — yang mengetahui perkara gaib kecuali bila Allah mengizinkan.

  2. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut.”
    ➤ Ilmu Allah mencakup seluruh makhluk-Nya, baik yang tampak di permukaan bumi maupun yang tersembunyi di kedalaman samudera.

  3. “Tidak ada daun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.”
    ➤ Sebuah perumpamaan halus: bahkan sesuatu yang sekecil daun yang jatuh tanpa suara, tidak luput dari pengetahuan Allah.

  4. Tidak pula sebutir biji dalam kegelapan bumi...”
    ➤ Allah mengetahui apa yang tertanam, tersembunyi, bahkan yang belum tumbuh — semua dalam genggaman ilmu-Nya.Sebuah biji yang jatuh di kegelapan lautan merasakan  5 kegelapan (menurut Ibnu Mas’ud)

  1. Kegelapan Tanah dimana biji tersebut terbenam

  2. Kegelapan air dalam lautan

  3. Kegelapan malam

  4. Kegelapan awan yang menggumpal 

  5. kegelapan Hujan yang turun

  1. “Melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
    ➤ Semua telah tercatat sejak dahulu, dengan ilmu dan kehendak Allah yang sempurna.

Definisi Muraqabah menurut Imam Ibnu Qayyim rahimahullah:

“المراقبة دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه.”

“Muraqabah adalah kesadaran yang terus-menerus dari seorang hamba bahwa Allah senantiasa memperhatikan zahir dan batinnya.”
(Imam Ibnu Qayyim, Madarij as-Salikin, 2/67)

Muraqabah berarti menjaga hati agar selalu sadar bahwa Allah melihat kita — di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun.
Ia adalah buah dari iman kepada nama dan sifat Allah: “Al-‘Alīm” (Yang Maha Mengetahui), “As-Samī‘” (Yang Maha Mendengar), dan “Ar-Raqīb” (Yang Maha Mengawasi).

Beliau juga berkata:

“من راقب الله في خواطره عصمه الله في حركات جوارحه.”

“Barang siapa yang menjaga muraqabah kepada Allah dalam lintasan hatinya, maka Allah akan menjaganya dalam gerakan anggota tubuhnya.” (Al-Fawaid, hal. 111)

⇒  Jika seseorang berhati-hati dalam niat, pikiran, dan bisikan hatinya karena merasa diawasi Allah, maka Allah akan menolongnya menjaga amal dan perbuatannya dari dosa.

Muraqabah adalah keadaan hati yang selalu sadar bahwa:

  • Allah mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi,

  • Allah melihat kita ketika berdiri dan bersujud,

  • Tidak ada rahasia, niat, atau pandangan yang luput dari pengawasan-Nya.
    Inilah yang membuat seorang hamba malu untuk bermaksiat, dan tenang dalam ketaatan, karena ia merasa selalu dalam pandangan Allah.

→ Jika kita ingin mengetahui hakikat diri kita, maka lihatlah pada saat kita bersendirian 

→ Seseorang bisa ikhlas, bisa jujur, bisa tenang  jika muraqabahnya tinggi, 

→ Saat muraqabah seseorang lemah, maka dia akan jatuh dalam kemaksiatan

→ Saat muraqabah seseorang tinggi, maka godaan syaitan akan terhempas 

→ Sibukkan diri dengan satu kebaikan ke kebaikan yang lain





Kiat-kiat agar bisa mencapai Muraqabah (menurut Dr. Sa’id Al-Qahthani):

1. Keyakinan yang tinggi, sempurna bahwa Allah mengetahui segala sesuatu — yang tampak maupun tersembunyi.

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۚ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

“Dan Dialah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi. Dia mengetahui rahasiamu dan apa yang kamu tampakkan, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (QS. Al-An‘ām 3)

Keyakinan ini akan menumbuhkan rasa malu dan takut kepada Allah, sehingga seseorang menahan diri dari maksiat walau tidak ada manusia yang melihatnya.

2. Keyakinan bahwa Allah menghitung segala sesuatu walau terkecil sekalipun

Seorang yang bermuraqabah selalu merasa “Aku sedang dalam pengawasan Allah”, karena semua tercatat .

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat),
وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya,
وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا
Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,

⇒ Selalu mengingat Allah dimanapun kita berada 

=> Bumi akan bersaksi terhadap setiap perbuatan manusia — di mana dia pernah sujud, berdiri, atau berbuat dosa.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasannya),
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).

Kesadaran ini akan menumbuhkan ketenangan, ketulusan, dan keikhlasan, karena seorang mukmin tahu bahwa nilai amalnya bergantung pada pandangan Allah, bukan pandangan manusia.


3. Memahami / Mentadaburi nama2 Allah 

 11 nama Allah yang bila direnungi dengan hati, akan menumbuhkan rasa muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu hadir, mengawasi, dan mengetahui segala sesuatu).

  1. ٱلرَّقِيبُ – Ar-Raqīb (Yang Maha Mengawasi)
    ➤ Allah selalu memperhatikan setiap bisikan hati dan langkah hamba-Nya.
    Tidak ada tempat tersembunyi dari pengawasan-Nya.
    “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”
    (QS. Al-Ahzab: 52)

  1. ٱلشَّهِيدُ – Asy-Syahīd (Yang Maha Menyaksikan)
    ➤ Allah menjadi saksi atas setiap amal, baik yang tampak maupun tersembunyi.
    Semua akan disaksikan kembali di hari pembalasan.
    “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu.”
    (QS. Yunus: 29)

  1. ٱلْحَفِيظُ – Al-Hafīzh (Yang Maha Memelihara dan Menjaga)
    ➤ Allah menjaga langit, bumi, dan amal manusia.
    Dia tidak pernah lupa, tidak pernah lengah.
    “Dan Rabbku atas segala sesuatu Maha Pemelihara.”
    (QS. Hud: 57)

  1. ٱلْمُحِيطُ – Al-Muḥīṭ (Yang Maha Meliputi)
    ➤ Ilmu, kekuasaan, dan pengawasan Allah meliputi seluruh makhluk.
    Tidak ada satu pun yang bisa keluar dari genggaman-Nya.
    “Dan Allah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.”
    (QS. Ath-Thalaq: 12)

  1. ٱلْعَلِيمُ – Al-‘Alīm (Yang Maha Mengetahui)
    ➤ Allah mengetahui yang tampak dan tersembunyi, masa lalu dan masa depan, yang di hati dan di lisan.
    “Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
    (QS. Al-Baqarah: 282)

  1. ٱلْخَبِيرُ – Al-Khabīr (Yang Maha Mengetahui secara mendalam)
    ➤ Allah tahu detail terdalam, tahu maksud dan niat di balik setiap amal.
    Tidak hanya mengetahui, tapi juga menyelami hakikat sesuatu.
    “Dan Dia Maha Mengetahui segala rahasia hati.”
    (QS. Al-Mulk: 14)

  1. ٱللَّطِيفُ – Al-Laṭīf (Yang Maha Lembut)
    ➤ Allah mengetahui secara halus, memberi dengan penuh kasih, dan menolong dengan cara yang tak disadari.
    Dia dekat dengan hamba-Nya dengan kelembutan yang tak terhingga.
    “Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.”
    (QS. Yusuf: 100)

  1. ٱلسَّمِيعُ – As-Samī‘ (Yang Maha Mendengar)
    ➤ Allah mendengar segala bisikan, doa, bahkan detak hati yang tak terucap.
    Tidak ada suara yang terlalu lirih bagi-Nya.
    “Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar doa.”
    (QS. Ibrahim: 39)

  1. ٱلْبَصِيرُ – Al-Baṣīr (Yang Maha Melihat)
    ➤ Allah melihat semua gerak-gerik makhluk-Nya, baik dalam terang maupun gelap.
    “Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
    (QS. Al-Hujurat: 18)

  1. ٱلْمُهَيْمِنُ – Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara dan Mengawasi secara penuh kuasa)
    ➤ Allah bukan hanya mengawasi, tapi juga mengatur, menilai, dan menjaga segala sesuatu dalam hikmah-Nya.
    “Dialah Al-Muhaimin.”
    (QS. Al-Hasyr: 23)

  2. ٱلْقَرِيبُ – Al-Qarīb (Yang Maha Dekat)
    ➤ Allah sangat dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan beribadah dengan ikhlas.
    Tidak ada jarak antara doa seorang hamba dengan pengawasan-Nya.
    “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
    (QS. Qaf: 16)


4. Memperbanyak mengingat Allah

Ayat yang menggambarkan kesadaran muraqabah dan kedekatan hati seorang mukmin kepada Allah melalui dzikir dan tadabbur ciptaan-Nya.

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَامًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“(Yaitu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring,  serta mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):  Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’
(QS. Āli ‘Imrān: 191)


5. Memperbanyak membaca Al Quran dan mentadaburinya

6. Belajar Aqidah dengan lebih kuat

→ Selalu menuntut ilmu dan pelajari nama Allah