60 -✨ "Ihsan" ✨
💎 Ustadz Tarzakariya Amir, Lc. حفظه الله تعالى
🗓 Hari: Jumat, 17 Oktober 2025 / 24 Rabi'ul Akhir 1447H
Hadis Jibril (Tentang Islam, Iman, Ihsan, dan Tanda Kiamat)
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ pada suatu hari, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak tampak padanya tanda-tanda bepergian, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi ﷺ dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Ia berkata: ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.’
Laki-laki itu berkata: ‘Engkau benar.’
Maka kami pun heran kepadanya, ia yang bertanya tetapi ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia berkata: ‘Beritahukan kepadaku tentang iman.’
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’
Ia berkata: ‘Engkau benar.’Kemudian ia berkata lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak dapat (merasakan seolah melihat-Nya), maka sesungguhnya Dia melihatmu.’
Ia berkata lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang kiamat.’
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’
Lalu ia bertanya lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Yaitu apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan apabila engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing, berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan tinggi.’
Kemudian orang itu pergi, dan aku pun diam sejenak.
Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku:
‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi?’
Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’
Beliau bersabda:
‘Sesungguhnya dia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.’”
Islam (amalan lahir), → urutan paling rendah – termaktub dalam rukun Islam → Mencakup amalan2 Lahir / fisik / dzhahir
Iman (keyakinan batin), → Tercatat dalam Rukun Iman → Amalan2 hati / Batin
Ihsan (kesempurnaan ibadah).- → Kondisi dalam menjalankan Iman dan Islam
Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam beragama — yaitu beribadah kepada Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan seakan-akan kita melihat Allah, dan jika tidak mampu sampai pada rasa itu, maka meyakini bahwa Allah selalu melihat kita.
“Seakan-akan engkau melihat-Nya”
Maksudnya, seseorang beribadah dengan hati yang penuh hadir dan cinta kepada Allah, seolah-olah ia melihat Allah di hadapannya. Ia merasa dekat, tenang, dan khusyuk. Ini disebut maqam musyahadah (tingkatan penyaksian hati) — di mana seorang hamba menyembah karena cinta dan pengagungan yang mendalam.“Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”
Artinya, walaupun kita tidak bisa sampai pada perasaan seolah-olah melihat Allah, kita tetap harus yakin sepenuhnya bahwa Allah melihat semua amal, niat, dan gerak hati kita.
Ini disebut maqam muraqabah (tingkatan merasa diawasi) — ibadah yang dijaga karena takut dan malu kepada Allah.
Allah akan memberikan ganjaran bagi orang yang ihsan – لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, disediakan kebaikan (al-ḥusnā) dan tambahan (ziyādah).” (QS. Yunus [10]: 26)
Islam adalah tingkatan terendah . Orang ISlam belum tentu beriman
Firman Allah tentang Iman dan Islam
📖 قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَـٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (berislam),’ karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 14)
Tumbuhkan iman terhadap Allah, malaikat, Rasul. Al quran, hari Akhir, qada dan qadr
الإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
“Iman itu bertambah dengan ketaatan, dan berkurang karena maksiat.”
Kaidah penting dalam ilmu akidah, dikenal oleh para ulama dengan ungkapan:
"إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا"
“Apabila Islam dan Iman disebut bersama, maka maknanya berbeda; namun apabila disebut terpisah, maka maknanya menjadi sama.”
1️⃣ Jika Islam dan Iman disebut bersama dalam satu konteks (seperti dalam hadis Jibril):
Maka Islam bermakna amal lahiriah (perbuatan anggota badan),
sedangkan Iman bermakna keyakinan batin (amalan hati).
Contoh:
Dalam hadis Jibril, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Islam adalah engkau bersyahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji...”
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir...”
(HR. Muslim)
➡️ Di sini, Islam artinya amal lahir, Iman artinya keyakinan batin.
Keduanya dibedakan dalam makna, meskipun saling berkaitan.
2️⃣ Jika Islam atau Iman disebut terpisah (hanya salah satunya disebut dalam ayat atau hadis):
Maka maknanya mencakup keduanya, baik lahir maupun batin.
Contoh:
Dalam QS. Ali ‘Imran [3]:19
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”
➜ Di sini “Islam” mencakup juga iman, bukan sekadar amal lahiriah.Dalam QS. Al-Ḥujurāt [49]:15
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu.”
➜ Di sini “iman” mencakup juga keislaman lahiriah.
Ciri orang muhsin sejati:
Tidak peduli dengan penilaian manusia.
Ia tidak mencari pujian, dan tidak takut celaan.
Sebagaimana firman Allah:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
“(Mereka adalah) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, dan mereka takut hanya kepada-Nya, serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 39)
Ia tahu, penilaian manusia tidak mengangkat atau menjatuhkannya — karena yang mengangkat dan merendahkan hanyalah Allah.
Namun hatinya selalu takut jika Allah merendahkan derajatnya.
Orang muhsin bukan merasa sudah tinggi, tetapi justru semakin takut kehilangan kedekatan dengan Allah.
Ia tidak merasa aman dari tergelincirnya hati atau jatuhnya keimanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Dia membolak-balikkan hati itu sesuai kehendak-Nya.”
(HR. Muslim)
Maka seorang muhsin senantiasa berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Faedah hadist
1. Keutamaan duduk di majlis ilmu
Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallāhu ‘anhu . Beliau dikenal sebagai sahabat Nabi ﷺ yang sangat tampan, sampai-sampai Malaikat Jibril ‘alaihis-salām sering menampakkan diri dalam rupa beliau ketika datang kepada Rasulullah ﷺ.
2. 2. Izin untuk mengambil waktu guru → Jibril meminta izin saat mendekat kepada Rasul
3. 3. Salah satu metode mengajar adalah dengan tanya jawab
4. 4. Pentingnya untuk mengatakan ‘tidak tahu’ jika memang tidak mengetahui suatu hal
5. 5. Allah tidak pernah memberi tahu kapan hari kiamat
6. 6. Larangan berlomba untuk bermewah2an
7. Malaikat mampu menyerupai manusia
8. 7. Adab murid kepada guru, berpakaian rapi
9. 8. Sabar terhadap murid, begitupun sebaliknya
19. Boleh bertanya walau kita sudah tau jawabannya, dengan tujuan untuk memberi ilmu kepada yang lain
.png)
.png)