Kamis, 06 November 2025

[Riyadhush Shalihin] 63. Kita Berada dlm Jurang Tak Berdasar

Bab 5 Muraqabah (Pengintaian) 

 63. Kita Berada dlm Jurang Tak Berdasar 

💎 Ustadz Tarzakariya Amir, Lc. حفظه الله تعالى 

🗓 Hari: Jum'at, 07 November 2025



Hadist 4 

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan (dosa) yang menurut pandangan kalian lebih ringan daripada sehelai rambut. Padahal kami (para sahabat) di masa Rasulullah ﷺ menganggapnya termasuk dosa-dosa yang membinasakan (al-mubiqat).” (HR. al-Bukhari)

arti Al Mubiqat ialah apa apa yang merusakkan.

📖 Penjelasan Makna Hadis

  1. Tentang dosa kecil yang diremehkan
    Hadis ini menegaskan bahwa meremehkan dosa kecil bisa menjadi sebab seseorang jatuh dalam kebinasaan. Dosa kecil, jika dilakukan terus-menerus tanpa taubat dan tanpa rasa takut kepada Allah, dapat berubah menjadi dosa besar karena menunjukkan hati yang keras dan lalai terhadap pengawasan Allah.

  2. Pandangan para sahabat
    Para sahabat Nabi ﷺ dikenal sangat berhati-hati terhadap dosa, sekecil apa pun. Mereka melihat setiap maksiat sebagai sesuatu yang bisa menghapus keberkahan dan mendatangkan murka Allah, bukan sekadar kesalahan ringan.

  3. Makna "Al-Mubiqat"
    Kata الموبقات (al-mubiqat) berarti “hal-hal yang membinasakan” — yakni dosa-dosa besar yang dapat menghancurkan amal, menjerumuskan pelakunya ke dalam azab Allah, dan memutus hubungan dengan rahmat-Nya.


Zaman ini , seorang melihat dosa begitu ringan karena sudah terbiasa dengan dosa2 kecil yang dilakukan atau yg ada disekitarnya dan menjadi suatu kebiasaan

Perkataan Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat utama Rasulullah ﷺ yang dikenal sangat dalam ilmunya. Ia berkata:

"Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, takut gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir (pendosa) melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia hanya mengibaskannya begitu saja."  (HR. al-Bukhari)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا 💎
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqān (pembeda antara yang benar dan yang salah)...” — (QS. Al-Anfāl: 29)

💫 perkataan para ulama salaf“Lā kabīrata ma‘al-istighfār, wa lā ṣaghīrata ma‘a al-isrār.”
“Tidak ada dosa besar bila diiringi dengan istighfar, dan tidak ada dosa kecil bila dilakukan terus-menerus.”

Zaman dulu, sangat jarang orang melakukan dosa besar

💫Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ
“Sesungguhnya termasuk dosa besar yang paling besar adalah seorang laki-laki yang melaknat kedua orang tuanya.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orang tuanya?”
Beliau menjawab:
يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang itu membalas mencaci ayahnya; ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu membalas mencaci ibunya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

FAEDAH

  1. Betapa tingginya standar orang2 shaleh terdahulu

  2. Dosa itu membahayakan dan memiliki dampak, dan semua akan dipertanggungjawabkan 

  3. Tidak boleh meremehkan dosa

  4. Jangan tertipu dengan banyaknya amal

  5. Manusia  yang paling mengenal Allah adalah para sahabat, maka selain mengikuti Al qur’an dan hadist , juga ikuti apa yang dikatakan dan dilakukan para sahabat



Resume pribadi oleh Eva Um Ghiffari 

Senin, 13 Oktober 2025

[Kajian Tematik] Bersandar hanya kepada Allah - Ustadz Rosyid

 Bersandar hanya kepada Allah

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah




Ali ‘Imran ayat 159, Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 "Apabila engkau telah bertekad bulat, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."
(QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

  • “Apabila engkau telah bertekad” → artinya setelah mempertimbangkan segala urusan dengan matang dan beristikharah.

  • “Maka bertawakallah kepada Allah” → yaitu menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah, tanpa takut gagal atau menyesal, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya.

  • “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal” → Allah menanamkan kecintaan dan penjagaan khusus bagi hamba yang percaya penuh kepada-Nya.

→ Manusia masih sering menggantungkan diri kepada orang lain , padahal kalaupun mereka memberi kebaikan untuk kita, maka kemudahan itu juga disebabkan oleh taufiq dari Allah

QS Al-An‘am ayat 17

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS Al-An‘am [6]: 17)

⇒  Ketergantungan penuh kepada Allah:, Hati seorang mukmin tidak bergantung pada makhluk, tapi hanya kepada Allah yang Maha Kuasa.

Hadits mulia Rasulullah ﷺ yang disampaikan kepada Abdullah bin ‘Abbas 

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Suatu hari aku berada di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.
Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.
Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah; bila engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

Ketahuilah, jika seluruh umat bersatu padu untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.
Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering (takdir telah ditulis).”
(HR. Tirmidzi, no. 2516 – hasan shahih)

⇒ Tawakal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.

QS Az-Zumar ayat 36

 أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ … 

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya? 


Hukum tawakal kepada Allah adalah wajib, dan tawakal kepada orang lain dengan yakin bahwa pertolongan makhluk itu juga disebabkan oleh Allah, maka hukumnya pun tetap wajib 


QS Al-Furqan ayat 58 

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.”

⇒ Sandarkan hati kepada Yang Tidak Pernah Mati, karena siapa pun yang engkau sandari selain Dia — akan pergi.

Bertawakallah kepada Allah, niscaya hidupmu tenang dalam penjagaan-Nya.


QS Āli ‘Imrān ayat 122

إِذْ هَمَّتْ طَّائِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Ketika dua golongan di antaramu hampir saja gentar (dan ingin mundur), padahal Allah adalah penolong bagi keduanya. Karena itu, hanya kepada Allah-lah orang-orang mukmin bertawakal.”
⇒ Kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah atau kekuatan, tetapi oleh pertolongan Allah.


Tawakal sebagai identitas bagi orang yang berserah diri

Para ulama menjelaskan bahwa agama ini berdiri di atas dua pokok besar:

  1. Ibadah kepada Allah (menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya)

  2. Bertawakal kepada Allah (berserah diri sepenuhnya kepada-Nya dalam segala urusan)

Maka dari itu, sebagian mereka mengatakan:

“Agama seluruhnya adalah isti‘ānah (meminta pertolongan) dan ‘ibādah (penghambaan);  dan tawakal mencakup keduanya.”
(Ibnul Qayyim – Madarijus Salikin)

⇒ Tawakal dan kembali melakukan ketaatan adalah satu paket ibadah yang harus diperhatikan dan terpisah

→ Pasrah bukan tawakal. bersandar pada Allah sejak awal . dan Allah akan beri banyak kebaikan bagi prang yang bertawakal


Faedah orang yang bertawakal

  1. Akan terhindar dari godaan syaitan 

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau (wahai Iblis) tidak mempunyai kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung (Wakil).”
(QS Al-Isra [17]: 65)

⇒ Bentuk perlindungan Allah dari gangguan syaitan

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu berdoa:

‘Bismillāh, tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’
(Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Maka dikatakan kepadanya: Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dijaga (dari keburukan).

Lalu setan menjauh darinya, dan berkata kepada setan lain:
Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dijaga?"(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad – hadits hasan shahih)

  1. Allah akan cukupkan rezeki 

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal,
niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki;
ia pergi di pagi hari dengan perut kosong, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

  1. Allah akan mencukupkan apa yang menjadi hajat kita

Siapa yang bertawakal, akan Allah cukupkan 

  1. Allah akan masukkan kedalam syurga tanpa hisab

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:   قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:

"عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي، فَقِيلَ لِي: هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ، وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ، فَنَظَرْتُ، فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ."

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Nabi ﷺ bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat (para nabi).
Ada seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikutnya, ada nabi yang hanya diikuti satu atau dua orang, bahkan ada nabi yang tidak diikuti seorang pun.

Lalu diperlihatkan kepadaku satu kelompok besar, aku menyangka mereka adalah umatku.
Dikatakan kepadaku: ‘Itu adalah Musa dan kaumnya.’
Kemudian aku melihat ke arah lain, tampaklah kelompok yang sangat besar.
Dikatakan kepadaku: *‘Itulah umatmu, dan di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.’”(HR. al-Bukhari no. 5705 dan Muslim no. 220)

Para sahabat kemudian bertanya,

“Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur (percaya sial), tidak mengobati diri dengan besi panas, dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka.”

Tawakal yang murni adalah kunci kemuliaan.
Mereka tidak bergantung pada selain Allah dalam urusan hidupnya.
Tidak berarti menolak pengobatan, tapi hati mereka tidak menggantungkan hasil pada sebab, melainkan sepenuhnya kepada Allah.
Masuk surga tanpa hisab artinya:

  • Tidak dihisab amalnya,

  • Tidak diadili atas dosa-dosanya,

  • Langsung mendapat rahmat Allah dan masuk surga dengan kemuliaan.

⇒ Puncak dari tawakal adalah yang masuk kedalam golongan ini

⇒ Allah adalah sebaik2 penolong

⇒ Allah maha segalanya, saat orang meminta, Allah akan berikan kemudahan dunia dan akhirat

  1. Orang yang bertawakal adalah tanda kecerdasan seseorang

Menyerahkan semua urusan kepada Allah bukan berarti tanpa usaha

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 10)

⇒ Bertebaran di muka bumi — artinya manusia diperintahkan untuk berusaha, bekerja, dan mencari rezeki setelah menunaikan kewajiban shalat. Islam tidak melarang dunia, tapi menuntun kita agar dunia tidak melalaikan akhirat.

⇒ Tawakal kepada Allah adalah pondasi





Rabu, 08 Oktober 2025

[Nasehat] Taman-taman Al-Qur’an

 


Taman-taman Al-Qur’an, halaqah-halaqahnya, dan para ahlinya —


itulah taman-taman surga di bumi.

Tempat duduknya memang di atas sajadah yang sederhana,
namun jiwa orang-orang yang duduk di dalamnya terangkat tinggi ke langit.
Mereka bernaung di bawah teduhnya kalam Allah;
hati salah satu dari mereka menjadi semerbak seperti musim semi,
yang lain mendapatkan kehidupan dan ketenangan.

Para malaikat mengelilingi mereka,
ketenangan menyelimuti mereka,
rahmat Allah tercurah kepada mereka,
dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-Nya yang mulia


.

Itulah tempat yang tak dikenal di dalamnya perbedaan antara tua dan muda,
kaya dan miskin —
semua sama di hadapan Kitabullah.
Mereka berlomba dalam tilawah,
berlomba dalam hafalan,
dan saling menguatkan satu sama lain.

Maka berbahagialah orang yang termasuk di antara penghuni taman-taman ini,
dan sungguh beruntunglah ia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai musim semi hatinya,
sahabat perjalanannya,
dan teman di liang kuburnya.



#TamanAhliQur’an


sumber : TAQI telegram